JATIMTECH.com – Serangkaian penelitian yang diterbitkan dalam Psychological Science, menunjukkan bahwa pembicara dan pendengar dalam sebuah persahabatan mereka dapat membagi sebuah cerita baru untuk menjadi lebih besar dan menyenangkan untuk banyak orang.

Percakapan adalah hal yang paling umum dari semua kegiatan sosial manusia dan melakukannya dengan baik mengharuskan kita tahu apa yang ingin teman kita dengar, kata ilmuwan psikologi Daniel T. Gilbert dari Harvard University. Pembicara berpikir pendengar akan paling senang mendengar cerita tentang pengalaman mereka. Penelitian ini muncul dari beberapa pengamatan riil yang dilakukan oleh Gilbert, Gus Cooney (Harvard University) dan Timothy D. Wilson (University of Virginia).

Ketika teman-teman kita mencoba untuk memberitahu kita tentang film yang kita belum pernah melihat atau album yang kalian belum pernah dengar, biasanya kita akan menemukan kebosanan, bingung, dan underwhelmed. Itu karena adanya pengalaman-pengalaman yang begitu kompleks sehingga kebanyakan dari mereka yang mendengarkan akan kesulitan untuk memahami dan berkomunikasi dengan baik. Namun, setelah giliran pendengar untuk berbicara, pendengar akan melakukan hal yang sama untuk teman-temanmu dengan suatu pengalaman yang ingin diceritakan. Hal inilah yang melandasi penelitian ini untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi?

Para peneliti memutuskan untuk melakukan serangkaian percobaan. Dalam percobaan pertama para peneliti menugaskan peserta untuk membagi keompok kedalam tiga kelompok, dengan satu orang yang bertindak sebagai pembicara dan dua lainnya bertindak sebagai pendengar. Pembicara telah melihat tayangan video dan lainnya tidak. Sebelum mereka mulai membicarakan video yang telah ditonton, pembicara memprediksi berapa banyak pendengar akan senang mendengar mereka berbicara, dan bagaimana pendengar akan mempertimbangkan cerita mereka. Ketika pembicara meulai berbicara, pendengar menilai mereka pada konsidi ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi pendengar mulai memudar. Namun disisi lain pembicara mengharapkan pendengar untuk merespon lebih positif cerita mereka ketika pendengar tidak melihat video yang telah ditayangkan. Namun pada kenyataannya, pendengar merespons lebih positif ketika mereka telah melihat video itu sendiri. Meskipun pembicara mengharapkan pendengar untuk menikmati tentang pengalaman baru mereka agar lebih akrab satu dengan lainnya, itu ternyata benar-benar sebaliknya. Studi kedua menunjukkan bahwa ketika pembicara juga mulai menjadi pendengar reaksi mereka menunjukkan perasaan yang sama seperti pendengar awal lakukan yang dilansir dari Sciencedaily, Selasa (14/02/2017).