Sains

Ngeri, Pinguin Afrika Alami Trap Ecology

JATIMTECH.com –Perubahan iklim dan perikanan membuat lautan menjadi tidak stabil yang mempengaruhi kehidupan laut termasuk penguin Afrika. Pinguin Afrika kabarnya berada dalam kesulitan, menurut para peneliti yang melaporkan dalam jurnal Current Biology pada 9 Februari 2017. Bahkan penguin muda terjebak yang mana tidak bisa lagi mendukung mereka untuk hidup lebih lama.

Hasil kami menunjukkan bahwa penguin Afrika remaja yang terjebak mencari makan di tempat yang salah karena penangkapan ikan dan perubahan iklim, kata Richard Sherley dari University of Exeter dan Universitas Cape Town. Spesies pinguin muda ini terancam punah karena meninggalkan koloni untuk pertama kalinya. Mereka melakukan perjalanan jarak jauh untuk mencari tanda-tanda tertentu di suatu daerah dengan banyak plankton dan banyak ikan. Namun, kelangkaan sumber makanan disebabkan oleh perubahan iklim dan pemancingan global membuat mereka ke tempat-tempat yang tidak mereka duga sebelmunya. Hal ini berdampak pada kelangsungan hidup mereka yang disebut trap ekologi.

Sherley dan rekannya, termasuk Stephen Votier, juga di University of Exeter, dan ilmuwan dari pemerintah Namibia dan Afrika Selatan, membuat penemuan baru setelah mereka menggunakan satelit untuk melacak penyebaran penguin Afrika yang baru datang dari delapan lokasi. Mereka ingin mengetahui apakah penguin sedang terjebak dengan apa yang dikenal sebagai Arus Benguela Besar Kelautan Ekosistem (BCLME). BCLME sendiri adalah salah satu dari tempat ekosistem up-welling utama timur dari batas dunia, kata Sherley. Ini secara historis juga menjadi salah satu daerah yang paling produktif bagi kehidupan laut di dunia yang mana penuh dengan ikan teri dan sarden.

Dalam beberapa dekade terakhir, penangkapan ikan yang berlebihan di Namibia dan perubahan lingkungan telah mengurangi jumlah ikan sarden dan mengubah daerah penggunaan ikan menjadi lebih langka. Selain itu, ikan dan plankton tidak lagi menjadi andalan yang mudah ditemukan. Masalahnya adalah bahwa tidak ada yang mengarahkan penguin untuk tidak kesana. Penguin masih bergerak ke mana plankton pada masa lalu melimpah, tetapi ikan tidak lagi di sana, kata Sherley. Secara khusus, ikan sarden di Namibia telah diganti oleh ikan yang lebih rendah energi dan ubur-ubur.

Para peneliti kemudian mengembangkan model untuk menunjukkan bahwa penguin telah melakukan perjalanan selama ribuan kilometer untuk mencari daerah di mana suhu permukaan laut yang rendah dan klorofil konsentrasi yang tinggi. Namun, para peneliti belum tahu pasti bagaimana penguin menanggapi zat yang dilepaskan oleh fitoplankton ketika mereka berada di bawah stres. Penguin muda yang menemukan diri mereka dalam ekosistem Benguela ternyata mengalami degradasi dan kelaparan. Sherley berharap kepada pemerintah Afrika Selatan untuk menerapkan batas spasial eksplisit penangkapan ikan sarden. Hal ini mampu membantu para pinguin muda untuk melangsungkan hidup mereka yang dilansir dari Sciencedaily, Rabu (08/02/2017).