GoPro mengatakan bahwa pihaknya telah memotong lebih dari 20 persen tenaga kerja secara global dan mengakhiri bisnis drone-nya. Perusahaan yang awalnya fokus menggarap kamera aksi itu bahkan disebut sedang mempertimbangkan opsi untuk menjual perusahaan.

GoPro memperkirakan penjualan sekitar $340 juta, jauh dari perkiraan sebelumnya sebesar setidaknya di angka $480 juta dan bahkan jauh dari perkiraan analis, di $ 472 juta. Dari pendapatan itu, GoPro hanya mengantongi labar $80 juta yang mayoritas disebabkan oleh banyaknya potongan harga dan penawaran ekstra murah sejumlah model drone keluarannya.

Situasi itu mengakibatkan investor panik, walhasil saham perusahaan tercatat mengalamai penurunan sebanyak 33 persen pada penutupan Senin menjadi $5,04 (Rs. 320), penurunan terbesar dan harga terendah sejak go public pada tahun 2014 lalu.

GoPro menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar kamera aksi. Perusahaan teknologi seperti Samsung Electronics dan Google telah mulai menjual produk serupa. Pada bulan November, analis Raymond James, Tavis McCourt, menulis bahwa belum ada pergerakan tak biasa di jajaran kamera Hero yang digambarkan dengan rendahnya pencarian dan juga unduhan aplikasinya.

Dron Karma yang tadinya diharapkan membantu membalikkan keadaan saat diluncurkan pada bulan September 2016. Sebaliknya, mereka malah diganggu oleh masalah di bagian produksi hingga memaksa penarikan kembali 2.500 unit akibat masalah baterai.

Chief Executive Officer Nicholas Woodman bahkan mengurangi kompensasi uangnya untuk tahun 2018 menjadi hanya $1 (Rs 63). Keadaan diperparah dengan rencana hengkangnya Chief Operating Officer, Charles Prober paling cepat bulan depan.