Home » Internet » Media Sosial » Hasil Studi, Twitter ternyata Bisa Merusak Otak?

Hasil Studi, Twitter ternyata Bisa Merusak Otak?

Twitter
Twitter

JATIMTECH.com – Setiap teknologi baru yang muncul, tentu menimbulkan berbagai macam dampak positif serta bahkan menimbulkan konflik, termasuk di dalam hal sosial media yang baru saja merayakan ulang tahun yang ke 10, ialah Twitter.

Selang setahun setelah pertama kali diluncurkan di Maret 2016, Twitter bahkan sempat dijuluki sebagai “The Crack” saat internet tengah menjadi kecanduan.

Seorang politisi sekaligus peneliti syaraf kognitif di Inggris, yakni Susan Greenfield, sempat berulang kali mengatakan jika internet ternyata mampu membuat orang dewasa menjadi berfikir dan berperilaku seperti seorang anak kecil yang begitu hiperaktif. Begitu pula dengan Twitter yang memangkas perhatian, menghilangkan kemampuan diri kita untuk membaca serta berfikir secara mendalam.

Berhasil dilansir dari Washington Post, Jumat (25/3/2016) lalu, secara tidak langsung, sosial media Twitter ini mampu merusak kemampuan kognitif seseorang. Akan tetapi, nampaknya bahaya tersebut rupanya belum begitu terbukti secara ilmiah. Kerusakan yang ditimbulkan hanya baru berdasarkan dugaan saja.

Seorang ilmuwan syaraf kognitif di Freie Universitat Berlin, Dar Meshi, mengungkapkan jika belum ada studi yang melihat efek media sosial kepada otak.

Misalnya, ada penelitian yang telah membuktikan jika adanya perubahan yang cukup besar yang ada pada otak remaja berpusat di genetika. Penelitian masa lalu Dar Meshi ini telah menemukan jika orang dengan memiliki sensitivitas yang tinggi di nucleus accumbens memiliki kepekaan yang lebih dalam media sosial. Akan tetapi, hal ini tidak berarti jika sosial media telah merusak otak yang mereka miliki.

Di bulan Desember, Dar Meshi bersama dengan 2 temannya, mempublikasikan hasil review yang ada di Trends in Cognitive Sciences yang mengevaluasi sekitar kurang dari 10 penelitian akan media sosial serta otak.

Mereka mengungkapkan jika untuk sementara, tidak ada penelitian yang mampu menunjukkan jika sosial media membentuk ulang otak kita dengan cara yang berbeda atau mungkin bahkan menjadi lebih buruk. Jika memang membawa suatu keburukan, maka belum jelas apa yang menjadi salah satu pemicunya, entah itu berasal dari media sosial itu sendiri ataupun berasal dari aspek lainnya.

Dar Meshi juga lantas melanjutkan, jika dilihat secara teoritis, ada perbedaan pada seseorang yang membaca novel dengan membaca SMS ataupun tweet. Hal ini tak bergantung pada apa itu mediumnya, melainkan bergantung pada rangsangan kognitif yang timbul dari buku atau dari sebuah tweet.

Have your say!

0 0