Sains

Gawat, Sel Miopi Serang Retina Anak-anak

JATIMTECH.com – Ilmuwan Northwestern Medicine telah menemukan sebuah sel di retina yang dapat menyebabkan miopia disfungsi. Disfungsi ini diduga terkait dengan anak yang menghabiskan waktunya di ruangan dan jauh dari cahaya matahari atau diruang tertutup. Penemuan ini kabarnya membuat sejumlah terapis membuat target terapi baru untuk mengendalikan miopia, kata Greg Schwartz, pemimpin penelitian dan asisten profesor ophthalmology di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

Lebih dari satu miliar orang di dunia memiliki miopia, insiden ini dapat meningkat terkait dengan berapa banyak orang menghabiskan waktu di dalam ruangan saat mereka kanak-kakan. Sel retina sendiri sangat sensitif terhadap cahaya yang mana mengontrol bagaimana mata tumbuh dan berkembang. Jika sel menginstruksikan mata untuk tumbuh lebih lama, maka gambar akan gagal difokuskan pada retina dan menyebabkan rabun jauh.

Tahukah sobat, mata kita juga perlu berhenti untuk tumbuh tepat saat masa kanak-kanak, kata Schwartz. Telah lama dikenal bahwa retina mengandung sinyal untuk mengatur fokus gambar pada mata dan sinyal ini penting untuk mengatur pertumbuhan mata selama masa kanak-kanak. . Schwartz menyatakan bahwa mereka berpotensi untuk menemukan cara agar sel retina tidak mengalami miopi. Dia menggambarkan sirkuit saraf sebagai diagram yang mengungkapkan bagaimana sel retina ini ditransfer ke sel-sel lain untuk mendapatkan sensitivitas yang unik.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana pengaruhnya antara terlalu banyak waktu di dalam ruangan dengan miopia? Spektrum cahaya dalam ruangan memiliki warna kontras hijau/ merah yang tinggi yang mana mengaktifkan kelompok ini dari fotoreseptor di mata manusia, menciptakan setara dengan gambar kontras buatan pada retina. Sel ganglion retina akan terlalu terpacu dengan pola seperti itu, menyebabkan penyimpangan lebih yang mengarah ke miopia, kata Schwartz.

Studi ini juga akan muncul dalam edisi cetak 20 Februari 2017 dari Current Biology dan bukunya diterbitkan secara online 26 Januari 2017. Untuk melakukan penelitian ini, Schwartz dan co-penulis Adam Mani, postdoctoral fellow di oftalmologi di Feinberg, menggunakan elektroda kaca mikroskopis untuk merekam sinyal-sinyal listrik dari sel-sel dalam retina sambil menyajikan pola cahaya pada proyektor digital. Tujuan berikutnya adalah untuk menemukan gen spesifik untuk sel ini. Kemudian para ilmuwan dapat mengubah aktivitasnya atas atau bawah pada model tikus genetik untuk mencoba menyembuhkan miopia.

Penelitian ini didanai oleh National Institutes of Health (NIH), yang ingin mengidentifikasi sel-sel baru dengan fungsi spesifik mereka, menganalisis tanda genetik mereka dan memahami bagaimana sel-sel saling berhubungan dalam retina dan target mereka di dalam otak. Penelitiannya dapat menyebabkan terapi gen untuk mengobati kebutaan dan meningkatkan fungsi prosthetics retina buatan yang dilansir dari Sciencedaily, Senin (06/02/2017).